FFD 2008: "Orang-orang Biasa, Kehidupan yang Tak Biasa"
Press Release
Selamat datang di Festival Film Dokumenter (FFD) 2008! Mari menyambut datangnya satu-satunya festival film yang mengkhususkan diri di bidang dokumenter di Indonesia! Jika menilik kembali tahun 2002, FFD berangkat dari keprihatinan dunia perfilman di Indonesia, yakni perkembangan film secara umum dan terutama media televisi, yang tidak memberi ruang bagi nilai-nilai edukasi dan pemikiran kritis. Keprihatinan ini memunculkan gagasan untuk membuka ruang bagi mereka yang memiliki perhatian dan potensi untuk memberi kontribusi bagi pengembangan kebudayaan secara umum dan khususnya dunia perfilman Indonesia, pertama: siapa saja bisa berhak mencoba dan membuat film, kedua: siapa saja bisa dan berhak mencoba, dan yang ketiga: seberapa kemungkinan kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas perfilman Indonesia. Hingga kini, penyelenggarannya yang ketujuh, FFD masih tetap pada visi untuk terus memberi ruang bagi aktivitas penciptaan, apresiasi dan sosialisasi, juga pendidikan di bidang film dokumenter dalam arti yang seluas-luasnya.
Menyambut FFD 2008
Seiring berjalannya waktu, FFD 2008 semakin matang dalam menjalankan program-programnya. Selain kompetisi film dokumenter, agenda FFD tahun ini antara lain: Perspektif, Spektrum, SchoolDoc, Master Class, serta program pendukung lain: workshop dan diskusi.
Program kompetisi FFD 2008 merupakan salah satu program yang dirancang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan bagi karya-karya terbaik. Program ini diharapkan menjadi barometer dalam penyelenggaraan festival sejenis dan menjadi ajang uji karya bagi para kreator dengan hadirnya para juri yang berasal dari beragam latar belakang dan keahlian, yang mumpuni dan/atau dapat merepresentasikan latar belakang masing-masing. Dewan juri terdiri dari para professional, akademisi, dan praktisi, baik dalam maupun luar negeri.
Kompetisi terdiri atas tiga kategori: Kategori Film Dokumenter Pendek, Film Dokumenter Panjang dan Kategori Pelajar. Kompetisi ini membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai bentuk dan jenis karya film dokumenter.
Master Class merupakan salah satu program di FFD 2008 yang bertujuan untuk mengembangkan intensitas pembuat film dokumenter Indonesia. Program ini menyediakan kritik serta sudut pandang lain bagi pembuatan film dokumenter secara kreatif. Pada titik balik perkembangannya, film dokumenter di Indonesia dihadapkan pada situasi ekonomi politik yang penuh gejolak. Situasi tersebut menyediakan beragam kisah yang dapat dicermati oleh para pembuat film dokumenter, kemudian dibagi kepada masyarakat. Dengan sumber cerita dan kemampuan teknis yang saling mendukung, film dokumenter Indonesia menyisakan satu langkah lagi untuk melanjutkan dokumenter yang berkelanjutan. Dalam rangka berpartisipasi pada keberlanjutan film dokumenter Indonesia, program Master Class tahun ini mengambil tema “Re-Inventing Indonesian Documentary”.
FFD 2008 mengusung dua program utama pemutaran film yang merangkum warna-warni dunia dalam Program Spektrum dan tema kemanusiaan dalam Program Perspektif. Orang-orang biasa, mereka yang menjalani hidup dengan tidak biasa. Itulah yang menjadi tema Perspektif FFD 2008, ”Ordinary People, Extra-Ordinary Life”. Dalam konteks kehidupan yang semakin kompleks; isu-isu budaya global, migrasi ekonomi dan sosial, serta keragaman budaya (cultural diversity) harus ditelaah dan diolah, kemudian menemukan titik tolak dan landasan bagi upaya penciptaan kehidupan yang lebih baik.
Spektrum, “Warna-warni Dunia”, akan membawa semua orang pada dunia yang penuh warna. Keragaman warna film-film dokumenter akan mengajak penonton merayakan gemerlapnya keanekaragaman karya film dokumenter, tanpa harus dipaksakan. Length feature documentary, film dokumenter pendek, eksperimental, cinema obeservational, participary video, dan beragam bentuk dokumenter lainnya, baik nasional internasional akan hadir meramaikan perayaan FFD 2008.
Program School Docs adalah program FFD untuk mensikapi berbagai peristiwa dan fenomena yang muncul dalam relasi antara masyarakat dan media audio-visual. Salah satu persoalan mendasar yang harus segera dipecahkan bersama adalah bimbingan dan pendidikan bagi anak-anak usia sekolah agar media audio-visual menjadi media yang berperan untuk mendukung perkembangan masa depan mereka. Ketiadaan pendidikan media, dapat diistilahkan sebagai tingkat kecerdasan media, adalah salah satu aspek yang akan sangat berpengaruh bagi kemajuan dan perkembangan masa depan masyarakat masa kini. Tingkat kecerdasan media ini antara lain terwujud dalam kemampuan untuk mengapresiasi, mengkritisi, dan memahami karya audio-visual sebagai produk teknologi dan budaya. Program ini diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan bagi para peserta untuk menggapai kecerdasan media dan menjadi titik tolak untuk meningkatkan kemampuan apresiasi di bidang audio-visual, yang selanjutnya dapat dijadikan bekal untuk memperkuat tingkat kecerdasan media anak-anak dan pelajar untuk menghadapi serbuan media yang mengglobal. Kegiatan-kegiatan dalam program School Docs ini adalah: screening film dokumenter untuk pelajar, workshop apresiasi dan kritik film untuk pelajar (SLTA), penjurian komunal pelajar (SLTA), dan lomba kritik film dokumenter untuk pelajar (SLTA).
Festival Film Dokumenter 2008 akan dirayakan selama tujuh hari berturut-turut mulai tanggal 6–13 Desember 2008. Berbagai dukungan datang dari institusi maupun perorangan, baik nasional maupun internasional untuk meramaikan FFD 2008. Mari ikut serta merayakan semangat gotong royong dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya pada karya-karya film dokumenter melalui Festival Film Dokumenter 2008!
Info lebih lanjut hubungi:
Anneke Putri Purwidyantari
Publicist Festival Film Dokumenter 2008
081 551 98695
www.festivalfilmdokumenter.org
Finalis Kompetisi Festival Film Dokumenter
Sebagai salah program yang dirancang untuk memberikan apresiasi pada film dokumenter, kompetisi Festival Film Dokumenter 2008 diharapkan menjadi barometer festival sejenis baik nasional maupun internasional. Kompetisi Festival Film Dokumenter 2008 terdiri atas tiga kategori, yaitu: Kategori Pelajar, Kategori Film Pendek, dan Kategori Film Panjang.
Kategori Pelajar:
1. FYI
2. Sarung Petarung
3. Bukan Sekedar Santri
4. Green Religion
5. Kejarlah Sahabat
6. Kampung Kursus
Kategori Film Pendek:
1. Homo Homini Lupus (Yusram Fikri Ansari)
2. Demit Ora Ndulit, Setan Ora Doyan (Rabernir)
3. Garis Daun (Wawan Sumarmo)
4. Mengadu Nasib (Ariani Djalal)
5. Jangan Bilang Saya Gila (Kiki Febriyanti)
6. Prahara Tsunami Bertabur Bakau (Emanuel Thome Hayon dan Mikhael Yosviranto)
7. Gubug Reot di Atas Minyak Internasional (Tedika Puri Amanda dan Kukuh Martha Afni)
8. Dance of Life
Kategori Film Panjang:
1. Turonggo Sakti (Imam Makhmud)
2. Ritus Swara (Hari Suryanto)
3. Balada Karak (Tunggul Banjaransari)
4. Peti Dua (Sakti Parantean)
5. Mencari Aku (M. Ma’aruf)
6. The Conductor (Andi Bachtiar Yusuf)
Tentang Komunitas Dokumenter
Komunitas Dokumenter adalah sebuah kelompok kerja yang bergiat di bidang film dokumenter. Komunitas Dokumenter dibentuk oleh beberapa anak muda dengan semangat kebersamaan dan kegotongroyongan untuk aktivitas-aktivitas apresiasi, produksi, dokumentasi, penelitian, dan sosialisasi film dokumenter. Komunitas Dokumenter mulai beraktivitas sejak tahun 2001 dengan tujuan utama membangun infrastruktur di bidang film dokumenter, dengan program-progam: pengembangan SDM, pusat data dan informasi, sosialisasi dan jaringan kerja, pendidikan dan pelatihan, dan festival. Komunitas Dokumenter bersifat nirlaba dan nonpartisan.
Visi: Mendorong kemajuan film dokumenter Indonesia sebagai wahana seni, informasi, dan ilmu pengetahuan bagi pengembangan gerakan masyarakat di bidang lingkungan, kehidupan, dan kebudayaan.
Misi: Mewujudkan diri sebagai komunitas terbuka bagi aktivitas-aktivitas apresiasi, produksi, dokumentasi, penelitian, dan sosialisasi film dokumenter.
Implementasi: Membangun infrastruktur di bidang film dokumenter, dengan program-progam: pengembangan SDM, pusat data dan informasi, sosialisasi dan jaringan kerja, pendidikan dan pelatihan, dan festival.
Festival Film Dokumenter
Festival adalah implementasi dari keseluruhan visi dan misi Komunitas Dokumenter. Festival dilaksanakan setiap satu tahun sekali dengan arahan sebagai muara dari setiap aktivitas dan program kegiatan, baik dari komunitas sendiri maupun dari masyarakat umum. Festival disusun dengan semangat kebersamaan dan kegotongroyongan, sebagai perayaan dan ajang berbagi pengalaman dan pengetahuan di bidang film dokumenter di antara berbagai elemen masyarakat, dari dalam dan luar negeri. Festival juga menjadi ajang bagi apresiasi film-film dokumenter terpilih dari berbagai penjuru dunia, dan ajang kompetisi untuk memberikan penghargaan bagi karya-karya dan kreator-kreator film dokumenter Indonesia terpuji.
“Merekam yang tersisa, mencari yang tersembunyi, menemukan kearifan semesta”



