FFPK Logo

Festival Film Pendek Konfiden

Partner FFPK 2009
DKJ Kineforum CCF Cinemags Footage Flick Karbon Kinoki The Marshallplan Frame

Pengantar Dewan Program FFPK 2009

Festival Film Pendek Konfiden (FFPK) merupakan perayaan tahunan atas karya-karya film pendek Indonesia yang menjadi bagian dari semesta film. Sebuah kegiatan yang dihadirkan untuk menjadi ruang dialog dan arena berproses bagi siapapun yang menghendaki kemajuan perfilman Indonesia, khususnya di ranah film pendek. Pentingnya ruang dialog serta arena berproses itulah yang menjadi semangat utama bagi Yayasan Konfiden menyelenggarakan Festival Film Pendek Konfiden.

Dalam pandangan kami, festival harus memiliki karakternya sendiri untuk menentukan titik awal dialog serta proses perkembangan yang hendak dilalui. Berdasarkan karakter itulah, sebuah festival menentukan berbagai hal termasuk acuan penilaian bagi film-film yang ditayangkan dalam festival. FFPK mengusung identitasnya sebagai festival yang mengedepankan film-film pendek yang bersifat naratif dan komunikatif, menawarkan gagasan yang segar, dan keberanian menjelajahi keragaman bahasa visual.  Dari uraian itulah standar penilaian ditentukan dan menjadi acuan bagi Dewan Program FFPK saat menonton, memilah, dan menyeleksi sekumpulan film peserta untuk menentukan film-film yang layak ditayangkan dan diikutkan dalam kompetisi selama festival. Acuan penilaian tersebut adalah:

Pertama, film pendek harus menunjukkan adanya eksplorasi atas tema, bentuk, gaya bertutur, dan media. Unsur eksplorasi dalam film pendek adalah esensi dari adanya bentuk film pendek dalam dunia perfilman (kami menyebutnya ’semesta film’ karena ‘dunia’ menyediakan ruang yang terlalu sempit bagi film). Eksplorasi menjadi penanda adanya semangat eksperimentasi atas media film. Semangat yang menunjukkan proses pembelajaran, pengendapan, usaha menolak kecenderungan untuk menerima begitu saja (taken for granted) atas kemajuan teknologi audiovisual dan hegemoni televisi serta keberadaan film komersil. Semangat dan upaya terus melakukan eksplorasi membuat film pendek tidak pernah mengenal kata ’rumus‘ atau ’resep‘ yang hanya memberi ruang sempit pada sifat mediokritas.

Kedua, eksplorasi saja tidak cukup, dan FFPK tidak menginginkan film pendek yang ’asyik dengan diri sendiri.’ Untuk itu, eksplorasi dilakukan dengan kesadaran dan pemahaman penuh pembuat film atas konteks gagasannya dalam lingkup sosial. Film menyampaikan gagasan dengan pemahaman yang utuh pada konteksnya. Sebuah film tentang kemiskinan atau konflik budaya bila tidak didasarkan pada pemahaman yang utuh atas konteksnya dapat menimbulkan kesalahpahaman atau melenceng dari tujuan yang hendak dicapai oleh pembuatnya. FFPK mengharapkan film pendek yang dapat mengusung suatu wacana secara utuh dengan tetap berpijak di bumi para penontonnya.

Ketiga, setelah eksplorasi dan kesadaran atas konteks, FFPK menekankan karakter festivalnya pada film pendek yang naratif (mengacu kepada adanya unsur cerita di dalam film) dan komunikatif (berhasil menyampaikan gagasannya). Eksplorasi bentuk bahasa visual dan gaya penceritaan pada film pendek lebih mudah diterima publik dalam bentuk yang naratif. Dalam setiap penyelenggaraan festival di Indonesia, film favorit pilihan penonton selalu tertuju pada film yang naratif dan pop. Hal itu tidak lepas dari referensi dan trend bentuk tontonan yang cenderung seragam. Oleh karena itu, penekanan pada film pendek naratif dengan gaya penceritaan yang tidak lazim dan beragam menjadi sangat penting sebagai karya visual alternatif. Hal tersebut tidak akan tercapai bila film tidak bersifat komunikatif.

Dewan Program bersikap tidak kaku dalam menerapkan standar penilaian di atas dengan tetap mengacu pada karakter FFPK. Namun dalam dua tahun terakhir, fleksibilitas dan pertimbangan politis dalam proses penilaian tidak cukup memberikan hasil yang menggembirakan. Hasil yang dimaksud tidak melulu bicara soal baik-buruk atau jelek-bagusnya film-film pendek karya peserta. Catatan-catatan yang muncul dalam proses kerja Dewan Program juga berkaitan dengan “pembacaan” atas situasi dan kondisi di ranah semesta film, terutama film pendek kita.

Selama tiga tahun berturut-turut, catatan FFPK lebih banyak menyoroti situasi dan kondisi yang mengaburkan terciptanya keragaman karya film kita. Pada kenyataannya, persoalan-persoalan yang telah kami paparkan dalam catatan festival di tahun-tahun sebelumnya memang masih kita hadapi saat ini. Meskipun demikian, kami tak hendak memaparkannya kembali dalam catatan FFPK 2009. Hal itu disebabkan karena kita akan selalu berhadapan dengan persoalan-persoalan baru, baik yang benar-benar baru maupun persoalan lama dengan wajah baru. Oleh karena itu, kita perlu membaca situasi dan kondisi dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga, kita tetap punya kesadaran akan keadaan yang dicita-citakan dan tidak larut dalam praktek pembiaran yang tersamarkan dalam suasana gegap gempita dunia film di media massa.

Bagaimanapun, gegap gempitanya dunia film pendek Indonesia lebih banyak ditentukan oleh para aktivisnya: pembuat film, pengkaji film, aktivis komunitas film, programer film, serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) yang memiliki perhatian pada perkembangan perfilman, termasuk film pendek Indonesia. Sesungguhnya, jejaring pihak-pihak inilah yang sangat diandalkan dalam perkembangan perfilman kita. Persoalannya adalah adakah dialog antara sesama anggota jejaring dan memiliki kesediaan untuk berproses dalam kerangka pengembangan perfilman Indonesia? Apapun jawabannya, seluruh pihak tentunya sepakat bahwa jejaring dikatakan berfungsi bila terjadi dialog dan semua pihak mengikuti proses bersama.

Paparan di atas tentang berfungsinya jejaring aktivis perfilman sangat relevan dengan keberadaan FFPK. Secara nyata, FFPK menerima film-film pendek yang seluruhnya (kuantitas dan kualitas) merupakan refleksi dari berfungsi atau tidaknya jejaring. Kehadiran sebuah film merupakan hasil dari sebuah proses yang melingkupi banyak aspek, dari soal pendidikan hingga distribusi—dengan rentetan hal lain setelah sebuah film masuk ke ruang publik seperti pengarsipan dan pengkajian. Dan selama sepuluh tahun terakhir, jejaring perfilmanlah yang memiliki kontribusi paling besar sehingga film Indonesia (dalam segala bentuk dan kategori) hadir ke semesta film. Hanya saja, seperti apa wajah seluruh aspek yang melingkupi film Indonesia di semesta film saat ini adalah wajah jejaring perfilman kita.

Setelah menunaikan tugasnya, Dewan Program FFPK 2009 melihat wajah bopeng jejaring perfilman kita. Hasil seleksi FFPK 2009 memunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam Dewan Program dan penyelenggara FFPK tentang hal-hal yang harus dialogkan dalam jejaring perfilman dan berbagai bentuk strategi kami masa pascafestival.  Ibarat cerita-cerita produk audio visual Indonesia (sudah jatuh, tertimpa tangga dan tembok yang runtuh, lalu gedungnya terbakar), FFPK 2009 harus menghadapi kenyataan bahwa hanya 10 judul film yang lolos seleksi dari 121 judul film (...). Selain  itu, tidak ada satupun film dokumenter dalam 10 judul film peserta kompetisi FFPK 2009.

Dewan Program dan penyelenggara FFPK harus menghadapi kenyataan yang lebih berat dari tahun lalu dan menyatakan bahwa tontonan televisi kita benar-benar menumpulkan daya imajinasi dan kreativitas. Penceritaan yang berlebihan, instan, dan penyederhanaan yang membahayakan adalah contoh pengaruh televisi yang tampak jelas dalam film pendek fiksi. Victimize victims, misleading, bentuk jurnalistik televisi, dan gaya potret (atau profil individu) yang umum dijumpai dalam program dokumenter televisi ternyata sangat nyata pengaruhnya pada karya dokumenter kita. Kenyataan yang membuat keragaman karya audio visual kita semakin miskin.

Berbeda dengan institusi negara serta kelompok bisnis dalam catatan Dewan Program FFPK 2008, tontonan televisi tak hanya hadir di banyak ruang tunggu layanan publik tetapi juga sampai di ruang keluarga bahkan kamar tidur. Televisi adalah referensi utama bahasa visual di Indonesia di tengah wajah bopeng jejaring perfilman kita. Tentu saja, televisi bukanlah pihak yang harus ditentang atau diboikot karena sepanjang sejarah sikap reaksioner tidak akan menghasilkan apa-apa. 

Atas uraian di atas, sikap yang hendak ditawarkan Yayasan Konfiden melalui FFPK berhubungan erat dengan tema festival. Mulai tahun ini, Dewan Program tidak hanya menghasilkan program film kompetisi dari film-film pendek yang lolos seleksi tetapi juga memilih film-film tertentu dari yang tidak lolos seleksi untuk ditayangkan dalam program film nonkompetisi. Adanya program film nonkompetisi di luar program khusus adalah bagian dari upaya Yayasan Konfiden dalam mengajak semua pihak untuk menyaksikan sebuah perayaan atas proses yang sedang berlangsung. Sebuah proses yang mencerminkan bentuk wajah kita. Maukah kita mengakui secara jujur bentuk wajah jejaring perfilman kita sebelum berdialog dan bersedia berproses bersama?