Tentang Film
Buletin FFPK 2008 Edisi 03 | 12 November 2008
Kitos, Selamat Tinggal Kota Merah
Sutradara: Mahardika Yudha
Produksi: Forum Lenteng
Dokumenter | 24'12 | 2007
Seperti kebanyakan film teman-teman kita dari Forum Lenteng, mereka selalu menyajikan karyanya yang khas, seperti pada film "Kitos, Selamat Tinggal Kota Merah", dokumenter besutan sutradara Mahardika Yudha. Film ini dibuat tanpa menggunakan dialog. Pada awal dan akhir cerita, hanya ada beberapa pesan singkat (SMS-red) yang menggambarkan kegiatan seseorang. Selebihnya berupa gambar-gambar merah di sudut-sudut kota. Kegiatan kota sehari-hari dengan kebisingannya, aktivitas orang-orang juga menampilkan sedikit tokoh-tokoh dalam sejarah. Film ini membuat kita mau tidak mau menyimpulkan sendiri tema apa yang ingin ditampilkan. Durasi yang cukup lama dalam sebuah scene, membawa kita hanya bisa memperkirakan hal apa kiranya yang ingin disampaikan oleh sutradara.
Di sela-sela wawancara, Riri Riza sempat berkomentar tentang film ini. Menurutnya, film ini seperti sebuah catatan jurnal seseorang ketika dia sedang berada di Tampere; ada impresi gambar dan suara dari sebuah tempat. Dalam pembuatannya, sang sutradara juga tidak tampak terburu-buru, dia membiarkan dirinya untuk percaya pada insting, bagaimana film itu ingin ditampilkan, baik secara durasi maupun struktur.
A Letter of Unprotected Memories
Sutradara: Lucky Kuswandi
Produksi: Friday Night Films
Dokumenter | 09'37 | 2008
Film yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi ini menceritakan perjalanan personalnya dari masa lalunya. Kisahnya berawal dari masa kecilnya saat perayaan Imlek dilarang oleh pemerintah Indonesia. Diskriminasi dan intimidasi yang harus dihadapinya, berpuncak pada kerusuhan Mei 1998. Setelah peristiwa 1998, perubahan terjadi termasuk adanya kebebasan untuk merayakan Imlek. Lucky mengisahkan pengalaman, perasaan, dan harapannya tidak melulu lewat bahasa gambar tetapi juga sekumpulan teks dalam bahasa Cina dengan subtitle bahasa Indonesia.
A Letter of Unprotected Memories ini membawa kita kembali ke masa lalu yang belum terlalu jauh ketika warga keturunan Cina mengalami bentuk-bentuk diskriminasi. Lucky berbagi rasa saat menjadi warga negara kelas dua di Indonesia. Kenangan atas perjalanan ketika hak untuk merayakan Imlek itu hilang dari masa kecilnya dan kemudian kini muncul kembali. (Era)
Buletin FFPK 2008 Edisi 02 | 11 November 2008
Drum Lesson
Sutradara: Tumpal Christian Tampubolon
Fiksi | 19'00 | 2008
Drum Lesson adalah salah satu karya yang masuk dalam program kompetisi dengan tema JAUH DEKAT. Ia dibuat di salah satu kota kecil di Korea Selatan dengan tetap menggunakan bahasa Korea. Film ini bercerita tentang seorang nenek yang ingin belajar bagaimana cara bermain drum, yang mempertemukannya dengan seorang pemain drum dari sebuah band yang beraliran Death Metal yang bersedia mengajarinya menabuh drum.
Tumpal dalam wawancara singkatnya, menjelaskan latar belakang mengapa dia menggarap film ini. Dia sangat menyukai ketika dua dunia yang saling berbeda, bertemu karena suatu insiden dan mencoba untuk berinteraksi. Perbedaan generasi yang ada, orang tua dengan kegiatan-kegiatannya di gereja dan yang satunya, anak muda dengan band metal. Pesan moral yang ingin disampaikannya adalah bagaimana kita bisa hidup bersama dan saling mengerti. Tujuan utama Tumpal adalah tentang sesuatu hal yang ingin diucapkan kepada orang-orang terdekat, tetapi belum juga tersampaikan.
Aku, Koran dan DVD
Sutradara: Millaty Ismail
Produksi: 25 Frames
Fiksi | 06'45 | 2008
Film garapan sutradara Millaty Ismail ini bercerita tentang dua anak kecil, Abdullah dan Milla. Keduanya adalah penjaja koran dan mejalah di jalanan yang bekerja seharian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Abdullah adalah seorang anak yang tergila-gila pada band Peter Pan. Suatu ketika sambil menjajakan koran, Abdullah melihat pamflet yang memberitahukan tentang konser Peter Pan.
Tahu bahwa dia tidak akan mungkin menonton konser tersebut secara live, ia pun mencoba mengumpulkan uang dan membeli DVD bajakan untuk dapat menyaksikan idolanya bernyanyi. Masalah tidak berakhir di situ karena Abdullah tidak mempunyai DVD player untuk menontonnya.
Film ini menyajikan gambaran yang mungkin ada di berbagai tempat di sudut-sudut kota. Tentang seorang anak yang memiliki keinginan besar untuk meraih sesuatu yang diinginkannya dan akan menempuh jalan apapun. (Era)









