FFPK Logo

Festival Film Pendek Konfiden

Partner FFPK 2009
DKJ Kineforum CCF Cinemags Footage Flick Karbon Kinoki The Marshallplan Frame

Wawancara dengan Pembuat Film

Rubrik Wawancara: Pada setiap penyelenggaraan festival film yang diadakan oleh Konfiden, selalu diterbitkan buletin khusus festival. Buletin ini berisikan informasi-informasi tentang segala sesuatu yang terjadi saat berlangsungnya festival. Halaman ini merupakan edisi online dari buletin cetak yang diterbitkan selama penyelenggaraan FFPK 2008.
Daftar isi: BW Purba Negara, Tumpal Christian Tampubolon

 

Tumpal Tampubolon dan Keberuntungan
Buletin FFPK 2008 Edisi 03 | 12 November 2008

Tumpal Christian Pratama Tampubolon. Sutradara yang lahir di Tarakan, 12 Desember 1979 ini, mencoba menceritakan awal mulai sampai ia bisa menjadi seorang sutradara. Namanya mungkin tidak setenar sutradara-sutradara besar Indonesia, namun perjalanan karirnya perlu untuk kita ambil sebagai pelajaran.

Tumpal mengawali perkuliahannya di ITB di jurusan Matematika. Tahun 2004 ia mencoba keberuntungan dengan mengikuti sebuah kompetisi penulisan skenario. Close Up Planet Short Movie Competition menjadi awal karirnya menjadi sutradara. Dari hanya sekadar coba-coba, ternyata skenarionya yang diberi judul Djanggo ini, lolos dan didanai untuk dijadikan sebuah film. Djanggo menceritakan tentang seorang anak yang berprofesi sebagai joki kuda di Jalan Ganesha. Anak ini berkeinginan menjadi koboi. Baju koboi telah ia miliki. Namun, ia juga ingin sekali memiliki topinya. Harga topi yang mahal membuat ia memaksa kudanya untuk bekerja keras. Akhirnya kudanya pun mengamuk dan memusuhinya.

Tahun 2005, Tumpal kembali mencoba keberuntungannya. Ia menyebut hal tersebut sebagai sebuah "kecelakaan". Hanya sekadar iseng, ternyata membawa skenarionya menang dalam Jiffest Short Fiction Script Development. Untuk kali kedua, filmnya didanai dan diproduseri oleh Salto Films dan Jiffest. Film berdurasi 18 menit ini, akhirnya selesai pada tahun 2006 dan diberi judul The Last Believer. Film ini mengisahkan tentang seorang anak kecil bernama Bela yang mempunyai adik penderita kanker darah. Bela yang menyukai cerita vampir, percaya bahwa seseorang yang digigit oleh vampir bisa hidup lebih lama. Karenanya, ia pun percaya bahwa dirinya adalah vampir. Film ini lahir atas kegemaran Tumpal pada film horor Hollywood di tahun 1950-an.

Tahun 2007 Tumpal terpilih mewakili Indonesia untuk pergi ke Korea Selatan mengikuti sebuah workshop tentang film. Acara yang bertemakan Asian Young Filmmaker Forum ini diadakan di kota Jeon Ju. Karena latar belakangnya yang hanya belajar film secara otodidak, Tumpal mengaku sering melakukan kesalahan. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi semangat belajarnya. Sepuluh bulan berada di kota Jeon Ju membuatnya jatuh cinta pada kota ini. Kota kecil yang hanya berjarak dua jam dari Seoul ini, ternyata memberikan kenyamanan bagi dirinya. Rasa nyaman itu pun tidak disia-siakan oleh Tumpal. Walaupun ini kali pertamanya pergi ke luar negeri tidak membuatnya menghabiskan waktu hanya untuk berjalan-jalan. Alhasil, film ketiga yang lagi-lagi diproduksi tanpa mengeluarkan dari kocek sendiri ini pun lahir. Februari 2008, film berjudul Drum Lesson menjadi puncak rasa syukurnya kepada Tuhan. Untuk ketiga kalinya ia membuat film tanpa mengeluarkan uang. Ia percaya bahwa dalam hidup, selalu ada jalan jika berusaha.

Ketiga filmnya memang belum pernah mendapatkan penghargaan. Namun, bukan itu tujuan utama Tumpal. Baginya yang utama ialah menyampaikan isi hati melalui film. Ia mengaku tidak pandai dalam berbicara, sehingga film dijadikan sebagai tempat berekspresi. Ia ingin menunjukkan bahwa pembuat film pendek bukan pembuat film amatir, yang seringkali (pantas) diremehkan. Asumsi inilah yang ingin ia hilangkan.

Latar belakang kuliah di jurusan Matematika tidak dilupakannya. Baginya, ia memang seorang seniman namun di dalam hatinya, ia tetaplah ilmuwan. Ketika perkuliahannya memasuki tingkat ketiga, ia tidak hanya mempelajari bilangan-bilangan. Ia juga mempelajari proses berpikir dan merenung lebih dalam. Hal ini membantu Tumpal dalam penulisan skenarionya.

Ketika menjawab pertanyaan mengenai apakah ia akan memproduksi film selanjutnya, Tumpal menjawab, "Saya tidak percaya tahyul, buat saya kalau saya membicarakan yang belum pasti terjadi, nanti Tuhan akan tertawa." (Emira)


BW Purba Negara
Buletin FFPK 2008 Edisi 01 | 10 November 2008

Di tengah hiruk pikuk keramaian yang terjadi pada acara pembukaan Festival Film Pendek Konfiden, Minggu, 9 November 2008, reporter kami berhasil mewawancarai “Popo” BW Purba Negara selaku pembuat film “Lastri, apa sing kowe goleti?”. “Lastri, apa sing kowe goleti?” dan “Ben” adalah film pembuka nonkompetisi yang diputar malam itu. Simak petikan wawancara kami.

Bagaimana kesan Anda terhadap Festival Film Pendek Konfiden tahun ini, khususnya di acara pembukaan?

“Bagus, masih banyak yang hadir, artinya masih banyak orang-orang yang mengapresiasi film pendek.”

Bagaimana perasaan Anda selaku pembuat film “Lastri, apa sing kowe goleti?” yang terpilih sebagai film pembuka pada FFPK tahun ini?

“Senang sekali, saya senang karena ternyata banyak yang menyambut film saya.”

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat film ini?

“Saat aku berusaha mencuri bibirmu, ternyata bibirku justru telah kamu curi.” Artinya sebetulnya pada film itu kedua tokohnya sama-sama benar, hanya terkadang kebenaran itu tidak selamanya bisa tersampaikan.

Apa harapan Anda terhadap Festival Film Pendek Konfiden (FFPK) mendatang?

“Harapan saya momen festival ini bisa dijadikan sebagai momen reinkarnasi bagi sineas-sineas film, khususnya film pendek."