Lokakarya Pemutaran Film
Pengetahuan Teknis bagi Projectionist (Fasilitator: Ahsan Andrian); Pengenalan Akustik Ruang Pemutaran (Fasilitator: Indra Notowidigdo); dan Manajemen Pemutaran (Fasilitator: Lintang Gitomartoyo).
Buletin FFPK 2008 Edisi 04 | 13 November 2008
Manajemen Pemutaran Film
Fasilitator: Lintang Gitomartoyo
Barometer kesuksesan sebuah pemutaran terdapat pada penonton, karena (ranah) apresiasi film yang diputar ada pada mereka. Penonton harus merasa nyaman dan bisa menikmati film yang telah diputar, jangan sampai para penonton meninggalkan tempat karena pengelolaan manajemen pemutaran yang buruk, walaupun hal itu tergantung pada selera si penonton itu sendiri.
Lokakarya pada hari ketiga Festival Film Pendek Konfiden (FFPK) 2008, dihadiri oleh sebelas orang perwakilan dari komunitas-komunitas film pendek. Acara ini membahas bagaimana sebuah manajemen pemutaran yang baik dilakukan. Lintang Gitomartoyo selaku pembicara menjelaskan tentang hal-hal yang harus diperhatikan perihal manajemen pemutaran, yaitu masalah finansial, ruangan yang ideal untuk pemutaran film dan media apa yang digunakan untuk memutar film. Sebuah pemutaran adalah tempat dimana karya orang lain dipamerkan maka kita harus meminta izin terlebih dulu kepada sutradara film tersebut. Perizinan dengan pihak sekitar terutama kepolisian juga harus diperhatikan.
Tujuan dan target umpan balik dari sebuah acara pemutaran bukan hanya dilihat dari peningkatan jumlah penonton, tetapi juga bagaimana mereka bisa menerima dan dan mengolah kembali apa yang telah mereka tonton. Dari hal itu kita bisa menilai apakah pemutaran yang telah dilaksanakan berlangsung dengan baik.
Barometer kesuksesan sebuah pemutaran terdapat pada penonton, karena (ranah) apresiasi film yang diputar ada pada mereka. Penonton harus merasa nyaman dan bisa menikmati film yang telah diputar, jangan sampai para penonton meninggalkan tempat karena pengelolaan manajemen pemutaran yang buruk, walaupun hal itu tergantung pada selera si penonton itu sendiri. Seorang manajer sebuah festival harus siap dengan situasi apapun, mereka juga harus bisa melakukan segalanya.
Acara lokakarya manajemen pemutaran film pada hari ini lebih bersifat saling tukar pengalaman. Kendala yang biasa dialami oleh para peserta adalah masalah perizinan kepada pembuat film, terlebih jika pembuatnya berasal dari luar negeri. Hal ini dapat diatasi dengan cara memperbanyak jaringan, sehingga kita dapat memperoleh izin dengan mudah. Kurang adanya komunikasi sesama komunitas film pendek juga menjadi kendala tersendiri, sehingga memunculkan ide untuk mengadakan pertemuan antar komunitas film pendek. (Era)
Buletin FFPK 2008 Edisi 03 | 12 November 2008
Pengenalan Akustik Ruang Pemutaran
Fasilitator: Indra Notowidigdo
Hari kedua penyelenggaraan FFPK 2008. Seperti biasa, hari ini acara dimulai dengan lokakarya. Namun Indra Notowidigdo atau yang lebih akrab dipanggil Jambrong, mengungkapkan kepada para peserta lokakarya yang hadir saat itu untuk lebih berdiskusi dan sharing. Peserta yang telah hadir hari itupun mulai menyambangi meja tamu sebagai salah satu bagian dari prosedur panitia. Sekitar pukul 10.40 acara lokakarya pun dimulai, meski sempat menunggu selama kurang lebih 40 menit, namun antusiasme para peserta hari itu terhadap materi lokakarya terlihat tak memudar. Para peserta yang datang dari berbagai kalangan itupun lebih banyak diajak bertukar pengalaman. Selain materi-materi tentang Tata Suara Pemutaran Film yang memang dibahas hari itu, Jambrong juga memaparkan tentang 3 Faktor Penting pada Akustik Ruangan, seperti Penyerapan, Pantulan (Reflection), dan Pembuyaran yang harus menjadi perhatian khusus pada saat melakukan setting audio untuk sebuah pemutaran.
Lokakarya hari itu bertambah seru karena tak lama berselang materi, Padang Mursalin atau biasa dipanggil Mumu turut hadir menjadi pembicara. Banyak hal yang kemudian menjadi masukan bagi para peserta lokakarya hari itu berdasarkan pengalaman pribadi beliau. Tak ketinggalan pula tips-tips penting yang bisa diterapkan pada kondisi-kondisi tertentu apabila terjadi masalah pada saat proses pemutaran film akan dan telah berlangsung.
Diskusi pun berlangsung apik selama kurang lebih tiga jam. Di akhir penjelasan materi, banyak sekali peserta yang akhirnya bertanya sekaligus sharing mengenai problematika yang mereka temui selama ini setiap menyelenggarakan pemutaran film. Mulai dari pengaturan suara yang baik seperti apa, cara menyiasati ruangan yang bergema, pengaturan audio menggunakan mixer jika ada masalah di tengah pemutaran, sampai pada hal-hal teknis seperti bagaimana meletakkan sound system secara tepat. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang akhirnya terungkap dan akhirnya menjadi pencerahan tersendiri bagi para peserta diskusi hari itu.
Setelah akhirnya acara lokakarya siang itu selesai, banyak sekali hal yang diharapkan pembicara semoga diskusi pada hari itu dapat bermanfaat buat teman-teman peserta yang kelak akan mengadakan acara pemutaran film kembali. (cEz)
Buletin FFPK 2008 Edisi 02 | 11 November 2008
Pengetahuan Teknis bagi Projectionist
Fasilitator: Ahsan Andrian
Selain pemutaran film-film kompetisi dan nonkompetisi yang ditampilkan pada setiap Festival Film Pendek Konfiden (FFPK), terdapat pula acara lokakarya yang mengangkat tema-tema berbeda setiap harinya. Di hari pertama festival, acara dibuka dengan lokakarya dengan tema "Teknis Projectionist". Lokakarya yang dihadiri oleh tak lebih dari sepuluh orang peserta ini, terbilang cukup menarik meski terkesan sepi. Hal tersebut ternyata tak menghilangkan semangat para peserta untuk mengikuti lokakarya ini hingga selesai. Pembahasan-pembahasan yang diulas pada lokakarya kali ini banyak mengungkapkan hal-hal teknis yang diperlukan oleh seorang Projectionist. Ahsan Andrian selaku fasilitator, tak sungkan untuk membagi berbagai pengetahuan dan pengalamannya kepada sejumlah peserta yang datang dari berbagai komunitas film. Mereka juga tampak begitu antusias untuk memperdalam pengetahuan seputar hal-hal teknis yang perlu dipersiapkan pada sebuah pemutaran. Terdapat juga ulasan-ulasan menarik tentang proyektor mulai dari pengaturan alat, bagaimana peletakan proyektor yang baik, sampai pada perawatannya. Kemudian tentang kabel; mulai dari jenisnya, fungsi, penataan kabel, sampai kepada hal-hal yang tampak sepele namun menjadi penting yaitu cara menggulung kabel. Pengaturan layar pun sempat dibahas, terkait dengan pembahasan-pembahasan teknis sebelumnya. Pembahasan ini mencakup penentuan materi putar, kesalahan-kesalahan umum yang perlu dihindari, tingkat cahaya yang dibutuhkan, serta faktor yang perlu dipertimbangkan. Peserta juga diajak rehat sejenak untuk melihat-lihat ruang proyeksi kemudian dilanjutkan dengan materi terakhir lokakarya hari itu tentang Membuat DVD. Bersama-sama, mereka mengupas seluk-beluk serta kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada proses penggunaan DVD. Pada pembahasan terakhir ini banyak sekali tips-tips yang diberikan oleh Ahsan. Penggunaan laptop untuk memutar film pun turut dibahas dan menghasilkan diskusi dan daftar persiapan yang panjang bagi mereka yang memilihnya.
Lokakarya yang berlangsung hangat tersebut dibalut dalam kemasan diskusi yang apik sehingga lebih banyak menampilkan pengalaman-pengalaman pribadi dari setiap pesertanya. Kasus-kasus yang pernah dialami oleh para peserta menjadi bahan diskusi yang menarik demi mewujudkan harapan bersama akan kualitas acara pemutaran film yang baik. Mengutip pula salah satu kalimat Ahsan Andrian: "Pada prinsipnya, bagaimanapun caranya kita sebagai Projectionist bisa menampilkan suara atau audio serta gambar atau visual yang baik untuk penonton." (cEz)









