FFPK Logo

Festival Film Pendek Konfiden

Partner FFPK 2009
DKJ Kineforum CCF Cinemags Footage Flick Karbon Kinoki The Marshallplan Frame

Festival yang Sedang Bersedih

Oleh: Dimas Jayasrana
Sumber: filmalternatif.org

Belum terlihat kesibukan yang berarti di ruangan itu, sedangkan perhelatan tahunan mereka tinggal hitungan hari. Festival Film Pendek Konfiden 2008 (FFPK 2008) yang akan diselenggarakan oleh Yayasan Konfiden tahun ini adalah yang ketiga kalinya semenjak berubah nama dari Festival Film Video Independen Indonesia (FFVII) yang terakhir kali muncul pada tahun 2002. Tanggal 9 – 13 November nanti adalah waktu yang ditunggu, setidaknya bagi para penggemar dan pemerhati film pendek di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa FFPK masih menjadi program acuan bagi perkembangan film pendek Indonesia. Tanpa mengecilkan arti acara lain yang serupa, FFPK rupanya masih menjadi acuan terpenting dari dunia film pendek Indonesia. Setidaknya konsistensi yang mereka tunjukkan melalui program-program yang disajikan selama festival dapat membuktikan hal tersebut.

Hal yang cukup luar biasa (atau bisa kita sebut ‘tidak biasa) yang kali ini terjadi adalah; Dewan Program Konfiden memilih ‘hanya’ 18 film pendek dari sekitar 140 film yang mendaftar ke festival mereka. Menjadi luar biasa, karena jika kita bandingkan dengan festival dua tahun sebelumnya, Konfiden menampilkan 82 film pendek dalam program kompetisi festival dari 225 film yang mendaftar. Kedelapan puluh dua film yang dipilih pun sesungguhnya sudah melalui proses ‘pengetatan’ dengan alasan untuk melakukan penajaman isi program serta kompetisi dengan tujuan meningkatkan kualitas film pendek Indonesia ke depannya.

Dengan alasan yang tidak jauh berbeda, tahun ini Konfiden melakukan hal yang sama. Maka, di festival mereka nanti, kita akan menyaksikan 18 film yang akan berkompetisi. Tentu ini bukan semata soal kompetisi, bukan soal menang atau kalah. Festival adalah soal perayaan. Merayakan sebuah proses ‘akhir’ tiap tahunnya, untuk melakukan semacam ‘evaluasi’ proses berkarya.

Terdengar menyenangkan, bukan? Tetapi nyatanya tidak. Konfiden malah menyatakan kesedihannya, setidaknya itulah yang terucap dari Alex Sihar, Direktur Yayasan Konfiden sekaligus FFPK 2008. Kata “sedih” malah terucap dari mulutnya. “18 film jelas bukan angka yang diharapkan oleh Konfiden. Kami memang ingin melakukan shaping yang lebih dalam untuk festival kali ini, tetapi kami tidak pernah membayangkan hasilnya ‘hanya’ 18 film saja”, tutur Alex.

Menurut Alex, seharusnya jumlah film yang terpilih tahun ini tidak terlalu jauh berbeda dari tahun sebelumnya. “Kalau bisa harusnya malah meningkat,” ujarnya. Menyedihkan bila melihat apa yang terjadi sepanjang tahun 2008 ini, ketika beberapa acara besar menyangkut film pendek cukup banyak diadakan mulai dari workshop produksi, hingga kompetisi. Terlebih beberapa acara diadakan oleh perusahaan besar.

Namun menurut Alex, acara-acara tersebut ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Nihil. Tidak ada sesuatu yang baru dihasilkan melalui workshop serta kompetisi yang ada sebelumnya. “Bahkan bagi mereka (sponsor – perusahaan besar), film pendek belum menjadi sebuah komoditas karena apa yang mereka lakukan tidak melingkupi proses pengembangan serta penajaman selayaknya mereka harus lakukan pada sebuah produk komoditas,” jelas Alex.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah terbangunnya mentalitas selebriti di antara para pembuat film, terutama pemula. “Mereka mengabaikan proses pembelajaran yang berkelanjutan, dan sesungguhnya memang tidak berujung, dan lebih berharap pada mimpi untuk menjadi selebriti di bidangnya tanpa mau belajar lebih dalam lagi,” tutur Alex.

Hal ini pula yang menyulitkan pengembangan film pendek Indonesia, selain minimnya infra serta suprastruktur untuk pendidikan. Negara pun tampaknya tidak mungkin diharapkan untuk memiliki kepedulian dalam hal ini. “Mungkin ini yang menyebabkan terciptanya jarak yang sedemikian jauh antar karya yang masuk. Tentu saja ini sama sekali tidak baik untuk ke depannya,” terang Alex.


Problem Sumber Daya

Program kerja Yayasan Konfiden sebenarnya tidak hanya terbatas pada festival saja. Hampir semua lini bersinggungan dengan program mereka, seperti apresiasi, distribusi, serta edukasi. Namun Agus Mediarta, Programmer Yayasan Konfiden, menyatakan bahwa problem utama yang mereka hadapi sejak awal adalah sumber daya manusia. Problem ini cukup menghambat pengembangan program kerja mereka.

“Konfiden dengan segala keterbatasannya mencoba untuk bekerja semaksimal mungkin. Kami juga tidak bekerja sendirian, setidaknya kami selalu mencoba untuk bekerja sama dengan semua pihak, terutama yang ada dalam jaringan komunitas film di Indonesia. Tetapi mereka (komunitas film) pun memiliki persoalan yang sama,” tutur Agus.

Rapuhnya pondasi komunitas film untuk mengembangkan kegiatan mereka adalah isu utama yang selama ini menghantui. Proses tumbuh-matinya komunitas film yang sedemikian cepat, mengakibatkan proses regenerasi yang terputus-putus. Alhasil, persoalan yang muncul seperti sebuah pengulangan belaka.

Banyak ruang serta lini yang sesungguhnya bisa terlibat aktif dalam pengembangan film pendek Indonesia, namun belum terintegrasi dengan baik. Seperti maraknya lembaga swadaya masyarakat yang menggunakan film pendek sebagai salah satu media kampanye mereka sesungguhnya potensial sebagai ruang eksperimen kreatif para pembuat film pendek. Sayangnya belum ada alur komunikasi yang baik antar ruang dan lini tersebut, walah dalam beberapa kasus sudah ada yang melakukan kerja sama yang baik.

“Banyak kantung-kantung komunitas film yang sesungguhnya amat potensial untuk berkembang bila diberi kesempatan. Saat ini, penguatan jaringan komunitas adalah hal yang vital, karena jelas Konfiden tidak bisa bekerja sendirian untuk ini. Ada strategi-strategi baru yang akan Konfiden lakukan ke depan, hanya saja kami masih butuh waktu untuk mematangkannya dan untuk itu Konfiden membutuhkan dukungan dari segala pihak,” tutup Agus.